Sastra eps II, Isnad khobari



Sastra eps II, Isnad khobari


Sastra eps II

ISNAD KHOBARI

Yaitu menghukumi mahkum alaihi dengan merusak maupun menetapkan hukumnya. Sedangkan tujuan pemberi khabar itu untuk memberitahu sami’ (pendengar) mengenai hukum perkaranya (nafsal hukmi), atau memberitahu sami’ bahwa yang memberi khabar (mukhbir) itu mengetahui perkaranya. Dan terkadang mukhotob diposisikan seperti halnya orang bodoh ketika mukhotob tidak bertindak setelah mengetahui khabarnya (mukhotob pura-pura bodoh). Seperti ucapan kepada orang ‘alim yang lupa terhadap tuhannya, “dzikir itu kuncinya pintu ma’rifat”.

Khobari : adalah ucapan yang memuat kemungkinan benar maupun salah dengan memandang inti ucapannya. Misalnya, ada seseorang yang mengatakan “zaid berdiri”, “zaid tidak berdiri”.

Tujuan mukhbir (pemberi khabar) : untuk memberi khabar atau mengumumkan. Namun tidak semua mukhbir bertujuan seperti itu. Karena terkadang maksud dari mukhbir adalah menampakkan kelemahannya, seperti halnya dalam surat Maryam ayat : 4, yang berbunyi “robbi inni wahanal ‘adhmu minni”. Dan terkadang juga menunjukkan kesusahan maupun sengsara, seperti contoh dalam surat Ali ‘Imron ayat : 36, yang berbunyi “robbi inni wadlo’tuhaa untsa”. Karena Allah adalah dzat yang maha tahu faidah khabar dan ketetapannya.

Nafsal hukmi (hukum yang dimaksud) : hukum yang dikaitkan antara musnad dan musnad ilaihi. Seperti ucapan “zaid berdiri” kepada orang yang belum tahu bahwa zaid itu berdiri.

Maksud lain mukhbir : seperti ucapan kepada orang yang sudah mengetahui berdirinya zaid “zaid berdiri”, memberi maksud bahwa mukhbir mengetahui berdirinya zaid.

Diposisikan sebagai orang bodoh : karena mukhotob tidak mengerjakan kewajiban ilmu, karena orang yang tidak mengamalkan ilmunya dengan orang bodoh itu sama.
Previous
Next Post »